Selasa, 06 April 2021

Don't say to God: "I have a big problem", but say to a big problem: "I have a great God"

Sumber gambar: id.pinterest.com

Tuhan menciptakan dunia beserta alam raya dan seisinya dengan maksud dan tujuan-Nya. Kita, umat manusia yang ada didalamnya adalah bagian dari penciptaanNya. Apapun yang kita lalui, lewati, hadapi dalam kehidupan ini sudah diatur olehNya. Setiap manusia pasti melewati tahapan - tahapan dalam kehidupannya sebagai sebuah proses. Apakah nantinya dalam tahapan-tahapan tersebut dia akan bisa melewatinya dengan baik ataukah tidak, semuanya kembali kepada masing-masing individunya.

Kita sebagai manusia ciptaanNya, tidak bisa memilih untuk lahir di dunia yang seperti apa, semuanya sudah tercipta sedemikian rupa. Baik atau buruk, suka atau tidak suka, semua itu harus kita terima dan lalui dengan apa adanya. 

Dunia yang sekarang kita tempati ini bersifat sementara, tidak abadi. Apapun yang ada di dunia ini hanyalah pendukung kehidupan kita selama kita masih tinggal - bernafas - hidup di dunia. Pendukung kehidupan yang gemerlap ini seringkali membuat manusia lupa bahwa semua itu hanyalah pendukung kehidupan yang bersifat fana.

"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan di dunia ini adalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur. Dan di akherat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaanNya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." 
(QS. Al Hadid: 20)

Ada sebagian manusia yang terlalu terlena dengan gemerlapnya dunia, memiliki begitu banyak harta, kuasa, hingga lupa bahwa semua yang dimilikinya bisa lenyap tanpa tersisa. Ada sebagian lagi merasa seolah tidak lagi memiliki daya upaya, seolah-olah antara badan dan nyawa tidak lagi seirama. Hanya terpuruk meratapi nasibnya tanpa ada upaya apa-apa. Dua hal yang bertolak belakang dan keduanya sama-sama tidak benar adanya.

Siapapun kita, selagi kita masih memiliki nafas kehidupan di dunia, selayaknya tetap harus berupaya untuk tetap hidup dengan apapun yang ada di dunia ini sebagai pendukungnya. Bayangkan orang-orang yang sudah tak ada lagi di dunia, banyak penyesalan pada mereka tentang mengapa mereka menyia-nyiakan hidupnya ketika di dunia. Ini yang seharusnya memotivasi kita untuk tetap survive dan berupaya sekuat tenaga dalam menjalani kehidupan di dunia dengan cara-cara yang baik dan bijaksana.

Tidak ada manusia yang TIDAK BERMASALAH, karena manusia diciptakan dengan seluruh pernak pernik kehidupannya sesuai dengan kemampuannya dalam menjalani kehidupan. Siapa yang memahaminya..? Tentunya Sang Pencipta yang paling paham setiap makhluk ciptaanNya.

Seseorang bercerita bahwa hidupnya tak lagi berharga karena merasa tak memiliki harta dalam kehidupannya, merasa tersisih dari kalangan teman-temannya, dan merasa berat menjalani kehidupannya. Hai, kawan... seberat apapun yang kau tanggung di badan dan pikiranmu, semua itu pastinya sesuai untukmu menurut-Nya. Iya, DIA sang Pencipta alam semesta yang paling paham tentang dirimu. Tidak mungkin Dia memberikan beban berat melebihi kemampuanmu sebagai ciptaanNya yang paling sempurna diantara seluruh ciptaanNya yang ada di dunia 😊

Hidup ini penuh dengan banyak cerita, jadi jangan hanya melihatnya dari satu sisinya saja. Kalian tidak pernah tau apa yang ada di sebaliknya. Itulah kenapa dinamakan CERITA, karena memiliki sisi yang berbeda. 

Seseorang yang kalian lihat bahagia, bisa jadi memang benar-benar bahagia. Tapi, sebahagia apapun dia, pastinya juga mempunyai cerita disebaliknya 😁, percayalah..!  karena seperti yang sudah saya bilang tadi, bahwa dunia ini bersifat FANA. Begitupun sebaliknya, seseorang yang kalian lihat sedih, kecewa, menderita, bisa jadi memang benar-benar menderita, sakit tiada tara, sampai untuk tersenyum-pun tak bisa. TAPI, kembali lagi, tidak mungkin kesedihan itu akan selamanya padanya, akan ada saatnya dia bahagia, tertawa gembira. Itulah sisi dibaliknya, SEBUAH CERITA kehidupan di dunia FANA. Jadi, jangan pernah percaya dengan apa yang kalian lihat di permukaannya saja πŸ‘ŒπŸ˜Š. Ketika sedang merasa bahagia, bersyukurlah, bersyukur dengan banyak cara, itu kan yang sering kali kalian lupa πŸ˜„. Ketika sedang bersedih, tetap bersyukurlah, KARENA berarti Tuhan menyayangi kalian dengan cara-Nya 😍.

Dunia ini berisi dengan beraneka ragam jenis manusia, yang pastinya memiliki sifat dan perilaku yang berbeda, ada mungkin yang sama tetapi itupun sedikit saja persamaannya. Beragam manusia ini juga memiliki tujuan dan maksud hidup yang berbeda-beda. untuk mewujudkan tujuan hidupnya, mereka juga memiliki cara-cara yang tidak sama. Yang paham agama, bisa jadi mengikuti tata cara yang baik tapi bisa juga justru yang paham agama melakukan cara-cara yang sebaliknya πŸ˜„πŸ˜„. Hal itu sepenuhnya diluar kuasa kita sebagai manusia untuk memahami karakter-karakter mereka. Hanya dirinya dan Tuhan yang tau pasti apa sebenarnya yang ada di hati dan pikirannya. 

Kita tidak bisa memilih bagaimana jalan cerita hidup kita, dengan siapa, lingkungannya, dan sebagainya. Seperti yang sudah kita bahas di atas tadi, bahwa semuanya sudah ada catatannya dari Nya, sang pencipta kita semua. TETAPI kita bisa membuat pilihan untuk menyikapinya. Bagaimana?... 

Hmmmm... sebenarnya semua orang memiliki cara-cara yang berbeda ya, tetapi jika saya, lebih baik tidak terlalu dekat dalam beberapa urusan ketika menemui seseorang yang sepertinya memiliki sense berbeda dengan diri kita 😊. Sepertinya terkesan mencari cara aman ya, iya memang πŸ˜„ karena saya tidak suka berkonflik apalagi sampai harus memunculkan kebencian yang mendalam πŸ˜‰. Saya lebih suka sedikit bicara, banyak bekerja. Kalaupun harus berargumentasi, pasti saya tetap menjunjung tinggi asas positivisme πŸ˜„πŸ˜„. Jika ada hal-hal yang terkesan memojokkan, sebenarnya itu hanya sebuah ulasan yang didukung dengan fakta-fakta bukti bukti nyata yang memang ada. Buktinya seperti ini, uraiannya begini, seharusnya tidak seperti ini, bla bla bla... πŸ˜„. Jika kemudian merasa tidak benar, silahkan memberikan tanggapan, tapi bukti itu terlihatnya nyata 😊. Kalau saya, ya kalau memang itu salah, ya diterimalah ya ulasannya, memang salah, minta maaf, selesai. CASE CLOSED...! 

Tapi tidak semua orang seperti itu kan, ada yang memang sukanya mencari permasalahan πŸ˜‚, sepertinya hidupnya tidak tenang kalau tidak bermasalah πŸ˜„πŸ˜„. Biarlah yang seperti itu, kita tidak perlu ikut-ikutan mengusiknya, nanti tipikal seperti itu malah akan semakin bahagia karena semakin banyak yang bermasalah dengannya πŸ˜…. Abaikan saja, biarkan itu menjadi tanggung-jawabnya dengan sang Pencipta alam raya 😊.

Kita, manusia memang diciptakan sebagai salah satu makhluk-Nya yang sempurna dibandingkan dengan makhluk-makhluk ciptanNya lainnya. TETAPI perlu diingat bahwa TIDAK ADA MANUSIA YANG SEMPURNA. Apalagi manusia diciptakan dengan rasa, nah ini yang seringkali menjelma menjadi permasalahan nyata di dunia 😊. RASA yang berlebihan akan memberikan dampak negatif bagi diri kita. Itulah pentingnya menyeimbangkan antara apa yang ada di pikiran dan apa yang ada di perasaan. Tuhan menciptakan semua yang ada di dunia ini seimbang, ada siang ada malam, ada duka ada suka, ada pria ada wanita, ada kelahiran ada kematian, ada kedatangan ada kepindahan, semuanya berselang seling menjadi satu padanan yang melengkapi satu sama lainnya.

Jadi, jangan pernah berburuk sangka kepada Sang Pencipta alam raya. Yakinlah semua yang ditaqdirkan oleh-Nya adalah yang terbaik bagi kita semua. Ketika kita diberikan kebahagiaan, bersyukurlah, jangan tertawa terlalu berlebihan, menikmati dengan uforia kebebasan. Begitupun ketika kita diberikan ujian kesedihan, permasalahan, tidak seharusnya kita terpuruk meratapinya berlebihan, menangis serasa yang paling kesakitan, apalagi sampai menentang sang Pencipta alam. Justru kesedihan yang diberikan pada kita adalah bentuk kasih sayang dan kerinduan Tuhan agar kita lebih banyak lagi berdoa dan bersabar. Tuhan ingin kita kembali mendekatiNya, berbisik memuji nama-Nya, menceritakan apapun pada-Nya seolah tidak lagi ada batas antara Pencipta dan makhluk ciptaanNya. Itulah bentuk kasih sayangNya pada kita yang sedang diuji kesedihan oleh-Nya. Yakinlah, bisikanmu akan terdengar sampai ke langit-Nya dan semua yang telah kamu lewati akan menjadi sebuah cerita indah pada waktunya πŸ’—πŸ’—

Bagaimana jika kesedihan itu membuat kita menjadi saling membenci ?... Janganlah....! Jangan pernah membenci terlalu berlebihan, karena kembali lagi pada satu hal bahwa MANUSIA TIDAK ADA YANG SEMPURNA. Salah satu ketidaksempurnaan itu pastinya adalah yang kalian tidak suka, jika kalian membencinya berarti kalian membenci penciptanya. Jika ada yang menurut kalian tidak baik adanya, yang itu mengganggu kalian, menjadi merasa tidak suka, sebaiknya dinasehati saja, jika tidak juga berubah, ya sudahlah... kembalikan semuanya kepada Sang Pencipta, karena Dialah yang memiliki semua makhluk ciptaanNya. Kita tinggal memohon dan meminta kepada-Nya untuk bisa membukakan pintu hatinya, merubah keburukannya menjadi sebuah kebaikan adanya.

Tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya selama yang kita minta adalah kebaikan semata 😍

JADI, ketika kita memiliki permasalahan yang menurut kita sangat-sangat besar, yakinlah bahwa sebesar apapun permasalahan kita, semuanya sudah ada jalan ceritanya. Lewati, jalani, dan berbisiklah pada-Nya, ceritakan keluh kesah kalian semuanya, hingga tak ada lagi batas antara Pencipta dan makhluk-Nya. Dia yang Maha membolak-balikkan hati semua makhluk ciptaanNya. Tetaplah jalani kehidupan dengan semangat menyala karena nafas kita masih ada, artinya perjuangan kita di dunia masih lama. Ok, maafkan jika ada yang kurang berkenan dan selamat berhari selasa... 😊

sepenuh cinta dari hatiku untukmu...



imma-san
06 April 2021



Senin, 05 April 2021

Family - Part 3: Mitra yang saling bekerjasama

 

Sumber gambar: spartabadmintonclub

Family atau keluarga adalah bagian terkecil dari suatu masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa anggota keluarga lainnya yang tinggal dalam satu atap yang sama, yang memiliki ikatan ketergantungan satu sama lainnya. Menurut Salvicion dan Celis (1998), dalam keluarga terdapat lebih dari dua pribadi yang tergabung, karena hubungan darah, karena hubungan perkawinan, ataupun karena pengangkatan. 

Saya pernah membahas tentang Family (keluarga) 2 kali ya, pertama bisa dibaca disini http://immabook.blogspot.com/2011/08/familyistana-terindah-yang-kita-miliki.html dan kedua bisa dibaca disini http://immabook.blogspot.com/2011/12/family-part-2-istana-terindah-yang-kita.html. Apa bedanya sekarang membahas tentang Family (keluarga) lagi?.. Sekarang bisa fokus ke family - keluarga gabungan antara hubungan darah - perkawinan - dan pengangkatan. Ini menarik untuk dibahas.

Sering kita mendengar ataupun membaca banyaknya permasalahan-permasalahan yang dialami dalam suatu keluarga, seperti yang sudah pernah saya tuliskan di 'family part 1' dan 'family part 2'. Apapun itu, banyak hal yang bisa terjadi, sebagaimana yang pernah saya tuliskan dulu bahwa family yang terikat karena hubungan pernikahan ini berasal dari keluarga dengan kebiasaan yang berbeda. Jadi, pastinya selalu ada hal-hal yang tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Masih ingat kan tulisan saya tentang 'sendok dan garpu' atau 'rel kereta api', itulah family dalam hubungan pernikahan. Masing-masing memiliki peran yang berbeda dengan tujuan yang sama. Satu sama lain saling bekerjasama untuk mencapai tujuan yang sama. 

Ingat, saling bekerjasama, bukan mempekerjakan salah satunya. Bekerjasama-pun harus konsisten dengan apa yang sudah disepakati di awal. Itu penting !!  Jika dalam satu hubungan ini tidak terjalin kerjasama yang baik, tapi justru malah fokusnya mempekerjakan salah satunya, ini akan memberikan dampak negatif bagi salah satunya. Mungkin di awal-awal akan baik-baik saja, tapi bisa jadi salah seorang yang merasa dipekerjakan akan merasa lelah. Ini berbahaya dalam suatu hubungan. 

Misalkan, si suami bekerja, si istri ibu rumah tangga. Masing-masing memiliki peran dan tugas sesuai dengan yang harusnya dilakukan. Begitupun sebaliknya, jika suami bekerja dan istri bekerja di luar rumah. Tanggung-jawab istri pekerja akan jauh lebih banyak karena secara otomatis dia juga harus bisa mengerjakan semua hal yang ada di rumah sebelum dia pergi bekerja keluar rumah. Jika dalam satu keluarga itu ada ayah-ibu-dan anak2, mereka semua adalah satu kesatuan yang seharusnya SALING BEKERJASAMA.  Bukan hanya ayah dan ibu yang bekerja keras, tetapi anak-anak pun juga harus diajari untuk bisa memahami hak dan kewajibannya sebagai seorang anak. Jika semua hak-hak nya telah terpenuhi dengan baik, maka seharusnya seorang anak juga harus melaksanakan kewajibannya dengan baik pula. 

Seharusnya jika hal diatas itu berjalan dengan baik, mestinya tidak akan ada permasalahan ya.. πŸ˜„.. Tetapi faktanya kan tidak seperti itu. Ada pasangan yang fokus masalahnya pada diri mereka sendiri, ada juga bermasalah antara menantu dan mertua (kasus ini banyak sekali terjadi), ada juga bermasalah antara ayah dengan anak sambungnya, ada yang anak dengan ibu sambungnya, dan masih banyak lagi. Sudah banyak sekali bahasan-bahasan seperti ini dan banyak juga saran-saran solusi mengatasi permasalahan tersebut. Tetapi balik lagi, selalu saja ada kan kasus-kasus seperti itu.

Saya contohkan saja kalau kita kembali ke masa kecil kita. Ketika kita bermasalah dengan ayah/ibu kita, misalkan kita melakukan kesalahan dan dimarahi oleh ibu/ayah kita, sebesar apapun marahnya mereka kepada kita, kita pun juga marah, tetapi selalu bisa berakhir dengan berbaikan dan berpelukan. Kenapa??? karena kita menghadapi permasalahan itu saat itu, dan tidak pernah lari dari masalah. Sementara, seringkali dan banyak terjadi kasus ketika ada permasalahan antara ayah-ibu-anak, maka salah satu selalu lari dari permasalahan itu, lari ke tempat lain yang masih ada hubungan keluarga tadi, misalkan ke nenek/kakek. Salahnya lagi, di tempat pelarian ini justru merasa mendapat perlindungan, bukannya dinasehati seperti "kamu harus pulang, minta maaf, tidak boleh bersikap seperti itu pada orang yang lebih tua, apapun itu", malah diberikan fasilitas, semacam "ya, sudah kamu disini saja" πŸ˜„πŸ˜„. Ini yang semakin memperbesar permasalahan. 

Pihak luar ini harusnya bisa menjadi tokoh yang netral, bukan malah menjadi kompor mledug πŸ˜„πŸ˜„, karena bagaimanapun yang namanya family - keluarga yang terdiri dari ayah-ibu-anak pastinya mempunyai tujuan ke arah yang baik. Dan seringkali anak-anak itu tidak paham, bahwa ketika orang tuanya itu cerewet, semuanya adalah untuk kebaikan dia. Mengajari disiplin, rapi, rajin, semua itu nantinya untuk kebaikan dia sendiri. Karena dalam hidup itu memang harus ada aturan, kalau tidak mau ada aturan ya bagaimana..???... di hutan belantara saja juga ada hukum alam, apalagi di dunia manusia 😁

Jadi, apa yang perlu digarisbawahi dalam family kali ini..? Ya, bahwa sebenarnya apapun permasalahan dalam sebuah keluarga, tidak seharusnya pihak luar meskipun itu ada hubungan darah, terlalu ikut campur dan ikut membuat keputusan sendiri. Hal itu sebaiknya tidak dilakukan, biarkan satu bagian terkecil yang terdiri dari ayah-ibu-anak itu menyelesaikan permasalahan mereka di rumah mereka tanpa harus ada salah satu yang selalu lari dan dilindungi. Selayaknya seperti itu.

Ibarat pepatah 'bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian', itulah seharusnya sebuah kehidupan berjalan. Setiap orang tua pasti mengharapkan yang terbaik untuk anaknya. Mengajari bagaimana kerasnya hidup supaya bisa menghadapi kehidupan ke depannya dengan baik karena apa yang nanti akan dihadapi ke depan itu tidaklah mudah. Ketika seseorang terbiasa dengan kemudahan-kemudahan, keteledoran-keteledoran, kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik, maka itu akan menyengsarakan dirinya sendiri di masa depan. Apakah seseorang itu merasa tertekan dengan kedisplinan...?, tertekan dengan hal-hal yang rapi...? sementara semua haknya telah dipenuhi dengan baik, sepertinya hanya Tuhan yang bisa membukakan mata hatinya tentang sebuah kebiasaan yang baik. Sesuatu yang terkesan sulit, jika kita lakukan secara terus menerus, konsisten, akan menjadi sebuah kebiasaan yang tidak sulit lagi. Kita ibaratkan seperti bangun di 1/3 malam, sepertinya berat, tetapi ketika kita memiliki niat yang tulus dan kuat, maka hal itu bisa kita lakukan, dan menjadi sebuah kebiasaan. 

Tidak ada manusia yang sempurna dan tidak ada manusia yang selalu benar. Kebenaran dan kesempurnaan itu hanya milik Tuhan, Pencipta alam semesta. Keep fighting...!


sepenuh cinta dari hatiku untukmu
imma-san
05 April 2021